Sukses Terbesar Seseorang akan Tercapai Jika Dia Bekerja Sesuai Passion

passion sukses terbesar

Ya, ini bukan teori semata. Tapi sudah demikian banyak orang membuktikannya, termasuk saya. Sukses terbesar dalam hidup ini, alhamdulillah telah saya dapatkan karena selama ini saya bekerja mengikuti passion.

“Apa sih passion itu?”

Secara umum, passion bisa kita sebut sebagai sesuatu yang paling kita sukai di dunia ini. Passion bukan hanya sebatas hobi, tapi passion juga menyangkut kebiasaan, gaya hidup, bahkan mungkin prinsip hidup yang paling kita sukai.

Passion adalah sesuatu yang kita rela dan dengan senang hati penuh kegembiraan melakukannya secara all out, walau tak ada bayarannya sama sekali, walau kita justru harus mengorbankan banyak hal (uang, waktu, tenaga, harta, dan sebagainya) untuk mengerjakannya.

Itulah passion! Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Cara Mendapatkan Verified Akun di Facebook (Berdasarkan Pengalaman Pribadi)

verified

Banyak teman yang bertanya pada saya, “Gimana caranya agar bisa mendapat status VERIFIED PAGE seperti Fan Page Jonru?”

Sejujurnya, saya dulu mendapatkan status verified ini secara otomatis, tanpa pernah diurus. Kalau tak salah, saya baru menyadari status tersebut sekitar bulan Mei atau Juni 2014. Lupa kapan tepatnya, tapi kira-kira sekitar itu, deh.

Karena dapatnya otomatis, maka saya pun tak bisa menjawab keingintahuan teman-teman yang bertanya seperti di atas. Namun sekadar “menduga-duga”, berikut adalah hal-hal yang pernah saya lakukan terhadap fan page Jonru, dan mungkin menjadi faktor-faktor penyebab pemberian gelar verified page. Saya pakai istilah MUNGKIN, karena semuanya serba belum pasti.

1. Pada halaman “page info”, saya mengisi data yang sejujur mungkin. Sesuai data pribadi saya yang asli.

2. Ketika mengisi formulir “page info”, kalau tak salah ada isian (lupa nama isiannya) di mana kita disuruh menjawab pertanyaan, “Apakah fan page ini merupakan MILIK RESMI Anda?”

(Jika fan page kita adalah merek sebuah produk, maka pertanyaannya kira-kira seperti ini, “Apakah fan page ini merupakan HALAMAN RESMI untuk merek tersebut?”)

Nah, untuk pertanyaan seperti ini, saya memberi jawaban YES.

3. Saya menghubungkan fan page Jonru dengan akun Twitter saya – @jonru – melalui halaman ini:
https://www.facebook.com/twitter/.

Setelah terhubung, semua update status saya di fan page Facebook akan otomatis ter-update juga di akun twitter @jonru

4. Saya beberapa kali mempromosikan status di fan page ini melalui layanan Facebook Ads. Pembayarannya pakai kartu kredit atau paypal. Mungkin melalui data dari paypal atau kartu kredit tersebut, pihak Facebook berkesimpulan bahwa fan page tersebut memang ASLI milik Jonru.

5. Saya memasang widgets fan page Jonru di sidebar blog pribadi Jonru.net dan jonru.wordpress.com. Tatacaranya bisa dibaca di sini.

* * *

Saya juga sempat searching di website Facebook, dan ketemu artikel ini.

Intinya:

– Kita TIDAK BISA meminta kepada Facebook agar profil atau fan page kita diberi gelar verified. Pihak Facebook sendiri yang akan memberikannya jika mereka yakin bahwa kita pantas mendapatkannya.

– Verified page atau verified account hanya diberikan kepada selebriti (atau tokoh terkenal di berbagai bidang), jurnalis, pejabat resmi pemerintahan, merek atau bisnis atau perusahaan terkenal.

– Pada halaman “page info” atau “profile info”, lengkapi data Anda selengkap mungkin, dan tentunya sejujur mungkin.

Semoga informasi ini bermanfaat, ya.

Pemilik Web IslamToleran dan FP “Quraish Shihab Palsu” Terbukti PENGECUT dan Tukang Fitnah

Beberapa hari lalu, sebuah fan page palsu yang mencatut nama Quraish Shihab memposting tulisan yang isinya memfitnah saya. Lucu sekali, karena orang ini menuduh saya tukang fitnah. Tapi isi posting dia justru berisi fitnah.

(Tulisan tersebut juga dimuat di website IslamToleran.com, yang sepertinya milik dia juga).

(Kenapa saya yakin Fan Page tersebut Palsu? Sebab ada teman yang telah berhasil membongkar identitas pemilik aslinya. Silahkan dibaca di sini dan di sini.

Berikut adalah link tulisan yang berisi fitnah tersebut (tapi sekarang sudah dihapus oleh si pemilik web): Baca pos ini lebih lanjut

Pengalaman Buruk di ATM Mandiri

Barusan (31 Mei 2013 pagi, sekitar jam 8 pagi) saya ke ATM Mandiri dekat rumah, tepatnya di SPBU Kramat Jati. Ketika kartu sudah masuk, saya merasa aneh, karena di layar tertulis, “Maksimal pengambilan Rp 500 ribu.” KOK BISA? Bukankah biasanya maksimal pengambilan adalah Rp 1.250.000 (jika pecahan uangnya Rp 50.000)???

Tapi saya cuek aja. Dan saya pun menarik Rp 500.000 sebanyak tiga kali. Dan saya memilih untuk tidak mencetak struk. Agar hemat kertas 🙂

Selain itu, saya juga mengambil uang di ATM BRI, dan di ATM Mandiri di tempat lain. Intinya, tadi pagi saya sempat menarik uang lebih dari 5 kali di BRI dan Mandiri.

Sesampai di rumah, saya menghitung semua uang yang telah diambil di ATM tadi. Jumlahnya Rp 6.950.000.

Tapi ketika saya menghitung berdasarkan transaksi di ATM, kok jumlahnya Rp 7.450.000??? Ada selisih Rp 500.000. KOK BISA?

Karena perhitungannya beda itulah, saya pun mengecek transaksi Mandiri lewat internet banking.

Pada saat itulah saya KAGET. Penarikan Rp 500.000 sebanyak tiga kali tadi, di rincian traksaksi tertulis:
– Rp 500.000
– Rp 1.000.000
– Rp 500.000

Lho??? Kok transaksi yang kedua tercatat Rp 1.000.000? Padahal uang yang saya ambil adalah Rp 500.000 sebanyak tiga kali. Dan itu karena di layar memang tertulis, “Maksimal pengambilan Rp 500.000”.

Saya pun segera melapor ke Bank Mandiri terdekat. Si petugas langsung membuatkan surat pengaduan. Dan saya harus menunggu sekitar 14 hari untuk penyelesaian masalah ini.

Sepulang dari Bank Mandiri, saya pun berinisiatif untuk kembali ke ATM Mandiri yang tadi. Mau memotret tampilan layarnya, sebagai bukti keanehan “Maksimal pengambilan…” tadi.

Tapi kejadian aneh berikutnya pun muncul. Ketika saya memasukkan kartu ke tempatnya, sama sekali tak bisa masuk. Saya coba lagi, tetap tak bisa. Lalu saya pun keluar dari ruang ATM. Ternyata, di luar pun ada seorang ibu yang mengatakan bahwa tadi dia pun tak bisa memasukkan kartu ke lubang yang tersedia.

Hm… kok makin aneh saja, ya? Mungkinkah ada orang yang mensabotase mesin ATM tersebut? Entahlah… 😦

Yang jelas, kejadian ini membuat saya berpikir, bahwa lain kali harus SANGAT CERMAT dalam bertransaksi lewat ATM. Struk harus selalu di-print. Sebagai barang bukti. Dan usahakan agar selalu mengecek pula di internet banking.

Siapa tahu, selama ini kejadian serupa mungkin sering terjadi. Tapi kita tak pernah mengecek, karena terlalu percaya pada sistem di mesin ATM.

NB:

1. Sekadar info, saya juga pernah mengirim uang ke seorang teman. Tapi anehnya, uang tersebut terkirim dua kali. Jadi dia terima dobel, deh. Untungnya, si teman ini baik hati dan mau mengembalikan. Kejadian ini menjadi bukti lainnya, bahwa kita tetap harus selalu melakukan cek dan ricek setiap kali bertransaksi di ATM maupun di internet banking.

2. Masalah yang saya ceritakan ini sedang ditangani oleh Bank Mandiri. Semoga nanti ada penyelesaian terbaik. Dan bila penyelesaiannya sudah ada, insya Allah akan saya update lagi infonya.

Update 17 Juni 2013
Barusan pihak Bank Mandiri menghubungi saya. Katanya, komplain saya ditolak. Alasannya: Transaksi dinyatakan berhasil. Kalau transaksi berhasil, biasanya komplain apapun akan ditolak. Duh! Ya sudahlah. Uang Rp 500 ribu hilang begitu saja. Tapi apa mau dikata. Ambil hikmahnya saja.

Thanks
Jonru

Tentang “Skandal” LHI dan Darin Mumtazah

“Apakah kamu percaya bahwa LHI terlibat skandal dengan seorang anak ABG bernama Darin Mumtazah alias DM?”

“Saya tidak tahu, karena saya tak kenal mereka secara pribadi. Karena tidak tahu itulah, maka saya tak mau SOK TAHU, menduga-duga, berburuk sangka, lalu mempergunjingkan mereka. Itu namanya ghibah. Dosanya sama seperti memakan bangkai saudara sendiri.”

“Tapi kalau LHI terbukti punya skandal dengan DM, bukankah itu akan mencoreng nama baik dia sebagai seorang figur di PKS?”

“Ya, seandainya (ini hanya seandainya lho ya…) skandal tersebut memang benar-benar ada, tentu rasa hormat saya padanya pun akan berkurang, bahkan mungkin hilang.

Tapi secara objektif kita tentu harus dengan PIKIRAN JERNIH bertanya, “Apakah skandal seperti ini ada kaitannya dengan kasus korupsi yang sedang dituduhkan terhadap LHI?

Kalau tak ada, tentu bukan pada tempatnya bagi kita untuk membicarakannya. Itu murni urusan pribadi dia. Bukan urusan kita. Kalau kita ikut-ikutan ngurus itu, tentu kita akan kena dosa ghibah.

Kalau ternyata ada kaitan, tentu bukan skandalnya yang harus kita bahas, melainkan hanya hal-hal yang berkaitan dengan urusan korupsi tersebut. Misanya soal KEMUNGKINAN aliran dana korupsi dari LHI ke DM, dan sebagainya*.

Saya kira, saatnya kita BERPIKIR CERDAS. Saatnya kita bisa memilah-milah, mana urusan pribadi, mana urusan publik. Mana pembicaraan hukum, mana pembicaraan gosip dan gunjingan yang enggak jelas juntrungannya.”

Sekian!

NB: Opini serupa telah saya tulis dalam bentuk cerpen, di sini >>

* Ini saya tulis dengan asumsi seandainya LHI memang korupsi. Ingat ya, cuma seandainya, hehehe… 😀

Jonru
Founder & CEO Dapur Buku
Cara Baru Menerbitkan Buku

Follow me: @jonru

Demi Membela KPK, Detikcom Mengcopy Paste Berita Tahun 2009

Belakangan ini, banyak teman di internet yang menemukan berita di media yang salah tulis, salah kutip, dst. Tapi yang paling memalukan adalah yang ini:

Berita asli, dimuat di website Pak Mahfud MD tahun 2009 lalu: http://www.mahfudmd.com/index.php?page=web.OpiniLengkap&id=21

Berikut berita selengkapnya dari website pak Mahfud MD:

KALAU DITANGKAP KPK, NGAKU SAJA
Kamis, 11-06-2009 / 13:21:08 (Total view : 2395)
Kerap kita dibuat keki oleh bantahan atau alibi orang-orang yang ditangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena korupsi.

Banyak di antara mereka yang berusaha mengelak dari jeratan hukum, misalnya dengan dalih tidak tahu bahwa di mobilnya ada uang. Mereka mengatakan dengan bahasa yang sama bahwa mereka dijebak, entah oleh siapa. Ada juga yang mengatakan bahwa uang yang diterimanya bukan suap, melainkan dana untuk kerja sama bisnis atau sumbangan untuk kampanye.

Haruslah diingat bahwa berdasarkan pengalaman, sampai kini tak seorang pun yang ditangkap dan dijadikan tersangka oleh KPK bisa lolos dari hukuman, semuanya dijebloskan ke dalam penjara. Mengapa? Karena sebelum menangkap seseorang, KPK pasti telah memiliki bukti-bukti yang takkan terbantahkan yang dihimpun jauh-jauh hari sebelum penangkapan dilakukan.

Tak mungkinlah kita memercayai alasan klise yang sering diumumkan oleh KPK bahwa penangkapan dilakukan secara tiba-tiba karena ada laporan masyarakat tentang akan terjadinya transaksi suap-menyuap.

Yakinlah, KPK sudah punya bukti-bukti yang dihimpun sendiri secara cermat dalam waktu lama melalui pengintaian, pembuntutan, penyadapan, dan perekaman aktivitas yang terkait dengan indikasi korupsi yang dilakukan oleh yang bersangkutan.

Oleh sebab itu, jika seseorang sudah dijadikan tersangka, apalagi penangkapannya sampai dipublikasikan oleh KPK, sebaiknya segera mengaku dan tak usah mencari-cari dalih. Hampir mustahil dalih atau alibi itu bisa menyelamatkannya.

Semakin banyak berdalih bisa semakin banyak aib keluar dan memalukan keluarga yang sebenarnya tak terlibat. Pelebaran aib itu bisa terjadi karena pembuktian oleh KPK di Pengadilan Tipikor adakalanya bukan hanya menyangkut korupsinya itu sendiri, tetapi menyangkut juga hal-hal lain yang dapat sangat memalukannya.

Ingatlah kasus Al Amin Nasution. Saat ditangkap dan diajukan ke Pengadilan Tipikor, dia membantah habis-habisan telah melakukan transaksi suap-menyuap. Namun di persidangan, KPK memutar banyak rekaman percakapan telepon yang sudah berkali-kali dilakukannya yang berisi proses transaksi penyuapan itu.

Sialnya bagi Al Amin, dalam pembicaraan hasil sadapan KPK itu terungkap pula bahwa transaksi korupsi itu bukan hanya menyangkut suap uang, tetapi juga melibatkan seorang wanita kinclong berbaju putih yang juga “disuapkan”.

Ingat jugalah ketika Urip Tri Gunawan dan Arthalyta Suryani kompak dalam skenario bahwa uang yang diserahterimakannya saat penangkapan oleh KPK adalah pinjaman untuk bisnis permata yang kemudian diubah menjadi bisnis bengkel dengan proposal yang coba untuk diatur melalui telepon dari dalam sel tahanan yang juga disadap KPK.

Di persidangan, semua rekaman pembicaraan Urip-Arthalyta yang dilakukan jauh-jauh sebelum penangkapan diputar oleh KPK dan yang bersangkutan tak bisa mengelak sehingga hakim pun tak bisa berkesimpulan lain kecuali bahwa keduanya telah melakukan korupsi bejat yang merusak negara sehingga dihukum sesuai dengan ancaman maksimal.

Ringkasnya, semakin banyak mengelak atau membantah akan semakin banyak pula rekaman hasil sadapan “transaksi korupsi” diperdengarkan di persidangan oleh KPK yang bisa-bisa membongkar aib-aib lain.***

Makanya, kalau sudah tertangkap atau dijadikan tersangka oleh KPK, sebaiknya mengaku sajalah, tak usah menuruti skenario pengacara jika sang pengacara menyuruh mencari-cari dalih untuk tidak mengaku. Mengikuti skenario bohong hanya menunda penderitaan dan deraan opini publik serta tak menolong untuk meringankan hukuman.

Apa yang dilakukan oleh Azirwan dan M Iqbal dalam menyikapi penangkapan oleh KPK mungkin perlu dicontoh. Azirwan, pasangan korupsi Al Amin, lebih pandai membaca situasi. Meskipun saat baru tertangkap dia menolak keras telah melakukan penyuapan, di Pengadilan Tipikor dia mengaku secara gamblang tentang suap-suap yang terpaksa dilakukannya karena “diperas” oleh orang-orang DPR.

Ketika KPK memutar rekaman perbincangan teleponnya dengan Al Amin, Azirwan langsung meminta hakim menghentikan pemutaran rekaman itu dan langsung mengakui semua isi perbuatan korupsi (penyuapan) dan tahapan-tahapannya yang dilakukan bersama Al Amin dan DPR.

Azirwan tahu membaca situasi dan paham atas kecermatan KPK. Kalau rekaman itu terus diputar di persidangan bisa-bisa muncul aib lain seperti yang terjadi pada Al Amin, yakni munculnya fakta bahwa bukan hanya uang yang disuapkan, melainkan juga ada embel-embel wanitanya. Al Amin tetap membantah, tapi Azirwan mengakui bahwa yang berbicara di telepon itu adalah dirinya dengan Al Amin.

M Iqbal, terdakwa kasus suap di KPPU, juga termasuk yang menyadari bahwa KPK tak dapat dibohongi. Ketika ditangkap, dia tak memberikan bantahan apa pun, kecuali menyatakan siap mengikuti proses hukum dan akan mengajukan pembelaan di pengadilan.

Iqbal yang memang intelek kelihatannya tahu bahwa tak mungkinlah dia mencari-cari alibi bohong karena KPK pasti sudah mempunyai bukti-bukti kuat yang telah dihimpun “secara legal” dan cermat jauh-jauh hari sebelum dirinya ditangkap tangan. Harus juga diingat bahwa kewenangan KPK untuk menyadap pembicaraan telepon dan merekam dengan video secara diam-diam terhadap orang-orang yang terindikasi atau berpotensi melakukan korupsi tidaklah melanggar HAM.

Kewenangan KPK untuk melakukan itu didasarkan pada ketentuan Undang-Undang No 20 Tahun 2001 (UU-KPK) yang memang membolehkan KPK untuk menyadap dan merekam secara audio visual dengan diam-diam terhadap mereka yang terindikasi atau berpotensi besar melakukan korupsi.

Ini perlu ditegaskan karena dengan alasan pelanggaran HAM, ketentuan UU-KPK yang memberi kewenangan kepada KPK untuk menyadap dan merekam secara diam-diam itu sudah pernah diujimaterikan (dimintakan judicial review) ke Mahkamah Konstitusi (MK), tetapi MK memutus dengan tegas bahwa kewenangan yang diberikan kepada KPK oleh UU-KPK itu adalah konstitusional dan tepat sebagai instrumen hukum untuk memberantas korupsi yang di Indonesia sudah dikategorikan sebagai extra-ordinary crime.

Kita pun harus terus mendukung pemberian kewenangan atau konstitusionalisasi penyadapan dan perekaman itu kepada KPK. Sebab jika tidak ada pemberian kewenangan ekstra yang seperti itu akan tidak mudah bagi KPK untuk memburu para koruptor.

Kalau tidak dibegitukan, kalau tidak disadap atau direkam secara diam-diam, akan ada saja akal para koruptor itu, apalagi mereka yang pejabat negara, untuk meloloskan diri dari hukuman dan mereka akan terus dan terus merusak negara dengan serial-serial korupsinya.

Berita copy paste detikcom:

Berita di atas dicopy paste oleh detik.com dan dimuat ulang tanggal 13 Mei 2013. Silahkan dicek: http://news.detik.com/read/2013/05/13/110301/2243937/10/mahfud-md-kalau-ditangkap-kpk-ngaku-saja

Berikut isi berita selengkapnya:

Senin, 13/05/2013 11:06 WIB
Mahfud MD: Kalau Ditangkap KPK, Ngaku Saja
Elvan Dany Sutrisno – detikNews

Mahfud MD Jakarta – Orang-orang yang ditangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena korupsi seringkali melempar bantahan atau alibi. Ada yang menyangkal, merasa dijebak dan masih banyak alasan lainnya, menurut Mahfud MD semua dalih itu tak akan menyelamatkannya dari jerat KPK.

“Haruslah diingat bahwa berdasarkan pengalaman, sampai kini tak seorang pun yang ditangkap dan dijadikan tersangka oleh KPK bisa lolos dari hukuman, semuanya dijebloskan ke dalam penjara,” kata eks Ketua MK, Mahfud MD, dalam opininya yang dikutip detikcom, Senin (13/5/2013).

Dalam menangkap seseorang, lanjut Mahfud, KPK pasti telah memiliki bukti-bukti yang takkan terbantahkan yang dihimpun jauh-jauh hari sebelum penangkapan dilakukan. Dia yakin KPK sudah punya bukti-bukti yang dihimpun sendiri secara cermat dalam waktu lama melalui pengintaian, pembuntutan, penyadapan, dan perekaman aktivitas yang terkait dengan indikasi korupsi yang dilakukan oleh yang bersangkutan.

“Oleh sebab itu, jika seseorang sudah dijadikan tersangka, apalagi penangkapannya sampai dipublikasikan oleh KPK, sebaiknya segera mengaku dan tak usah mencari-cari dalih. Hampir mustahil dalih atau alibi itu bisa menyelamatkannya,” ingat Mahfud.

Semakin banyak berdalih, lanjut Mahfud, bisa semakin banyak aib keluar dan memalukan keluarga yang sebenarnya tak terlibat. Pelebaran aib itu bisa terjadi karena pembuktian oleh KPK di Pengadilan Tipikor adakalanya bukan hanya menyangkut korupsinya itu sendiri, tetapi menyangkut juga hal-hal lain yang dapat sangat memalukannya.

“Ingatlah kasus Al Amin Nasution. Saat ditangkap dan diajukan ke Pengadilan Tipikor, dia membantah habis-habisan telah melakukan transaksi suap-menyuap. Namun di persidangan, KPK memutar banyak rekaman percakapan telepon yang sudah berkali-kali dilakukannya yang berisi proses transaksi penyuapan itu,” ujar Mahfud mencontohkan.

“Sialnya bagi Al Amin, dalam pembicaraan hasil sadapan KPK itu terungkap pula bahwa transaksi korupsi itu bukan hanya menyangkut suap uang, tetapi juga melibatkan seorang wanita kinclong berbaju putih yang juga “disuapkan”,” lanjutnya.

Contoh lain, Mahfud mengisahkan ketika Urip Tri Gunawan dan Arthalyta Suryani kompak dalam skenario bahwa uang yang diserahterimakannya saat penangkapan oleh KPK adalah pinjaman untuk bisnis. Di persidangan, semua rekaman pembicaraan Urip-Arthalyta yang dilakukan jauh-jauh sebelum penangkapan diputar oleh KPK dan yang bersangkutan tak bisa mengelak sehingga hakim pun tak bisa berkesimpulan lain kecuali bahwa keduanya telah melakukan korupsi.

“Ringkasnya, semakin banyak mengelak atau membantah akan semakin banyak pula rekaman hasil sadapan “transaksi korupsi” diperdengarkan di persidangan oleh KPK yang bisa-bisa membongkar aib-aib lain,” simpum Mahfud.

“Makanya, kalau sudah tertangkap atau dijadikan tersangka oleh KPK, sebaiknya mengaku sajalah, tak usah menuruti skenario pengacara jika sang pengacara menyuruh mencari-cari dalih untuk tidak mengaku. Mengikuti skenario bohong hanya menunda penderitaan dan deraan opini publik serta tak menolong untuk meringankan hukuman,” tandasnya.

(van/try)

Hasil screenshoot dari seorang kaskuser:

(Tadi info ini sudah diposting di kaskus, tapi dihapus oleh moderatornya. Mungkin karena salah kamar). Untungnya saya sudah menyimpan screnshot thread-nya, sehingga saya bisa menampilkan foto ini.

Dari screenshoot ini, TERLIHAT DENGAN JELAS, bahwa tulisan alinea ke-2 yang aslinya:

“Haruslah diingat bahwa berdasarkan pengalaman, sampai kini tak seorang pun yang ditangkap dan dijadikan tersangka oleh KPK bisa lolos dari hukuman, semuanya dijebloskan ke dalam penjara,” kata eks Ketua MK, Mahfud MD, kepada detikcom, Senin (13/5/2013).

Telah diubah menjadi:

“Haruslah diingat bahwa berdasarkan pengalaman, sampai kini tak seorang pun yang ditangkap dan dijadikan tersangka oleh KPK bisa lolos dari hukuman, semuanya dijebloskan ke dalam penjara,” kata eks Ketua MK, Mahfud MD, dalam opininya yang dikutip detikcom, Senin (13/5/2013).

Image

Entah apa maksudnya berbuat seperti itu. Mari kita simpulkan sendiri-sendiri 🙂

Pak Mahfud MD Bisa Menggugat Detik.com!

Yang jelas, gara2 ulah detik.com ini, banyak netter innocent yang menyalahkan pak Mahfud MD, dan nama baik beliau tentu tercoreng.

Coba simak komentar2 berikut, yang saya copas dari detik.com:

Komentar1:

Salam P MD yang terhormat, saya ko jadi kontradiksi dengan posisi bapak sebagai pakar hukum? Ketika seseorang belum di sidangkan masa dipaksa disuruh mengaku melakukan korupsi? Sangat naif bila orang tersebut benar2 tidak bersalah dan KPK memaksakan kehendaknya dengan mencari cela, dari korupsi tertangkap tangan beralih jadi pencucian uang, tahu nanti apa lagi yang akan dituduhkan kalau perlu imeg tertangkap oleh KPK jangan sampai berubah menjadi lolos atas tuduhan KPK. Apakah hukum lahiran..

Komentar 2:

Manatan ketua MK ngomongnya aj begitu,kayak orng ga ngerti hukum makin hancur negri ini mengadili orng bkn dgn hukum tp mengadili orng dgn persefsi,blm lg jd presiden ngomong dah ngawur aj,prof hukum ngomongnya kayak orng ga ngerti hukum

Dan masih banyak lagi.

Dari kasus ini, seharusnya pak Mahfud MD pun bisa menggugat detikcom jika beliau tidak pernah diwwancarai. Sebab gara-gara detikcom copas berita tahun 2009, nama baik beliau bisa tercoreng. Ingat: Peristiwa copas ini muncul ketika kasus LHI sedang rame-ramenya. Jadi masyarakat tentu langsung menghubungkan pernyataan Pak Mahfud MD ini dengan kasus LHI. Dengan kata lain, seolah-oleh Pak Mahfud MD berpendapat bahwa LHI bersalah.

Padahal sebagai tokoh yang sangat pakar di bidang hukum, pasti pak Mahfud MD tak mungkin gegabah dalam membuat pernyataan soal KPK vs LHI ini. Sebab pengadilannya saja belum dimulai. Secara hukum, LHI belum terbukti bersalah.

Membela KPK dan Menyerang LHI/PKS?

Kasus ini, tentu saja membuat saya berpikir, seperti pada judul artikel ini. Apakah ini merupakan upaya Detik.com untuk membela KPK dan menyerang PKS dan LHI?

Boleh-boleh saja sih, mereka bersikap seperti itu. Tentu itu hak mereka. Tapi jangan begitu juga kaleee caranya. Masa berita basi dimuat juga. Apa kata dunia?

Pesan moral:

Jangan terlalu mudah percaya pada media mainstream. Banyak berita menyesatkan. Baca juga media2 alternatif, agar kita mendapat info2 yang berimbang.

Oh ya:
Sehubungan dengan kasus LHI, berikut saya tampilkan rangkumannya dalam bentuk gambar. Sudah tayang di FB dan Twitter, dan alhamdulillah di-share oleh ribuan orang.

fakta kasus lhi

Terima kasih

Jonru
Founder dan CEO Dapur Buku
Cara Baru Menerbitkan Buku

Fanatik terhadap PKS?

fanatik_terhadap_pksPagi ini (14 Maret 2013) saya menulis dua status berturut-turut di Facebook:

Status I:

Parpol atau ormas itu cuma kendaraan. Alangkah naifnya jika kita fanatik terhadap kendaraan. Kalau mau fanatik, ya sama Islam saja.

Status II:

Ketika ada orang yang fanatik terhadap klub sepakbola tertentu, artis tertentu, ulama tertentu, kita menganggap itu biasa-biasa saja.
Tapi ketika ada orang yang fanatik terhadap agama yang dia anut, kita menganggap itu perbuatan yang sangat tercela.
Mengapa? Bukankah hanya agama yang bisa membuat kita masuk surga? Emangnya Manchester United atau Justin Bieber atau Gus Dur bisa bikin kita masuk surga? Tak bisa kan???

(Pemikiran seperti ini sudah pernah saya tulis di buku Sekuler Loe Gue End)

Setelah membaca status di atas, ada teman yang menyindir, mengatakan saya fanatik terhadap PKS. Secara tidak langsung dia berkata, “Kamu bilang cuma boleh fanatik terhadap Islam. Tapi kamu kok fanatik terhadap PKS?”

“Sindiran” seperti itu memang bisa dimaklumi, karena belakangan ini saya memang banyak menulis status, atau men-share status orang lain, yang intinya adalah membela PKS. Dan banyak orang yang kemudian mengira saya fanatik terhadap PKS, mencintai PKS secara membabi-buta. Bahkan ada teman yang menyindir saya, “Sekarang ada agama baru, ya. Namanya PKS.”

Ya, sebenarnya saya maklum-maklum saja pada persepsi orang lain yang seperti itu. Sebab mereka umumnya belum kenal saya secara lebih dekat.

Mereka mungkin tidak tahu, bahwa dulu ketika PKS menjagokan SBY sebagai capres, saya justru membelot dan memilih JK. Ketika teman-teman mengajak saya untuk ikut kampanye SBY, saya menolak mentah-mentah.

Atau kalau teman2 ingin bukti yang lebih otentik, coba baca tulisan berikut, yang saya tulis pada tahun 2005 lalu:

Ketika Partai Pilihanku Mendukung Kenaikan Harga BBM

Apakah pada artikel tersebut terlihat bahwa saya fanatik terhadap PKS? Silahkan teman-teman berikan penilaian sendiri.

* * *

Bagi saya pribadi, PKS atau ormas hanyalah kendaraan untuk menjalankan tugas kita di muka bumi ini, yakni beribadah kepada Allah. Jadi PKS adalah sarana saya untuk beribadah semata. Khususnya di bidang politik.

“Bukankah sarana beribadah itu banyak? Kenapa harus PKS?”

Karena hingga saat ini, saya menilai bahwa PKS adalah sarana yang paling sesuai dengan ajaran Islam yang saya pahami.

Mungkin Anda punya pemahaman yang berbeda mengenai Islam. Karena itu, Anda pun punya pemahaman yang berbeda pula mengenai “sarana apa yang paling cocok.”

Baiklah. Semua orang boleh berbeda. Tapi selama niatnya sama, yakni untuk beribadah kepada Allah, maka tak ada yang peru dipermasalahkan, bukan?

“Oke, kalau kamu memang tidak fanatik terhadap PKS, berarti kamu siap untuk meninggalkan PKS suatu saat nanti, jika menurut kamu PKS sudah tidak sesuai dengan ajaran Islam?”

Betul sekali. Apapun itu – termasuk PKS – jika dia memang tidak sesuai dengan ajaran Islam, maka mari tinggalkan rame-rame.

Masalahnya, sampai sekarang saya masih berpendapat bahwa PKS masih sesuai ajaran Islam. Itulah sebabnya, saya masih setia pada PKS.

Tapi kalau soal fanatik, ya ke Islam saja. Sebab hanya Islam – bukan PKS atau apapun – yang bisa membawa saya ke surga 🙂

* * *

Berikut saya copas bagian penting dari tulisan saya tahun 2005 lalu:

Bagi teman-teman yang telah mengenal PKS secara mendalam, saya yakin akan bisa memahami sikap saya ini. Tapi bagi Anda yang belum mengenal PKS lebih dekat, saya akan mencoba menjelaskannya. Tapi sekali lagi maaf jika ini terkesan sebagai kampanye.

Sepanjang pengetahuan saya, PKS bukan partai biasa. Ia bukan partai yang hanya mengurus politik. Partai lain, coba kita lihat. Mereka hanya tersenyum pada rakyat pada saat kampanye pemilu. Para kadernya pun lebih banyak berfokus pada kekuasaan. Mereka amat berambisi jadi penguasa. Karena itu, segala cara pun ditempuh.
Lantas jika pemilu sudah usai, senyum manis itu pun usai. Mereka kembali menampakkan ciri aslinya. Politik itu kotor. Politik itu penuh intrik, kepentingan dan ambisi kekuasaan. Dan itulah gambaran yang paling nyata menyenai partai politik secara umum.

Dulu, saya pun pernah bergabung dengan sebuah partai politik. Dan fakta yang saya temui tidak jauh-jauh dari gambaran di atas.

* * *
Setelah mengenai PKS, ajaib sekali! Saya menemukan nuansa yang benar-benar berbeda. Bagi PKS, politik itu bukan untuk meraih kekuasaan. Politik adalah bagian dari dakwah. Dan sebagai sebuah partai dakwah, kegiatan PKS bukan hanya di bidang politik. Nyaris semua aspek kehidupan disentuh oleh PKS. Ini sangat sesuai dengan ajaran Islam yang memang menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia.

Selama bergaul dengan para kader PKS, yang saya temui bukanlah orang-orang yang berambisi jadi penguasa. Malah sebaliknya, hampir semua kader PKS adalah orang-orang yang tidak pernah bersedia jika dicalonkan untuk menduduki jabatan tertentu. Kalaupun akhirnya menerima, itu karena terpaksa, dan mereka melihat itu sebagai takdir. Mereka melihat itu sebagai kesempatan untuk memperluas lahan dakwah.

Ya, sepanjang yang saya lihat, motivasi utama para kader PKS dalam berpolitik bukanlah untuk meraih kekuasaan, namun untuk menjalankan tugas dakwah di muka bumi ini.

Dan karena motivasi dakwah inilah, senyum manis para kader PKS terhadap rakyat tidak hanya kita temukan pada masa-masa kampanye. Memang, di masa kampanye mereka terlihat agresif dalam merebut simpati rakyat. Secara jujur, saya pun mengakui hal ini. Tapi bukankah hal seperti ini juga dilakukan oleh partai-partai lain? Dan yang perlu diingat, senyum manis kader PKS ini ternyata tidak hanya berlangsung di masa-masa kampanye. Senyum manis dan tulus mereka hadir setiap saat, kapan dan di mana saja. Bahkan beberapa hari setelah pemilu usai, mereka tetap aktif menyelenggarakan kegiatan bakti sosial, membantu rakyat yang menderita karena terkena banjir, dan seterusnya. Kalau dipikir-pikir secara logika politik orang awam, buat apa mereka melakukan hal ini? Buat apa mereka mencari simpati rakyat padahal pemilu sudah usai?

* * *
Sungguh! Kenyataan seperti itulah yang membuat saya tetap konsisten, memutuskan untuk tetap berada di barisan pendukung PKS. Saya tahu, dalam masalah BBM saya telah dikecewakan oleh PKS. Namun saya juga tahu, PKS bukan hanya mengurus politik. Di PKS, saya menemukan Islam dalam arti yang sebenar-benarnya. Di PKS, saya berkesempatan untuk berkenalan dengan manusia-manusia yang luar biasa, manusia-manusia yang konsisten dalam menerapkan nilai-nilai Islam dalam setiap aspek kehidupan mereka. Di PKS, saya terus-menerus diingatkan oleh para ikhwah sahabat saya, untuk tetap konsisten menjadi seorang muslim yang baik, muslim yang selalu konsisten dalam berislam secara kaffah. Saya akui, sejak bergabung dengan PKS saya merasa hidup saya lebih bahagia dan lebih tenang.

Dengan kondisi ini, akankah saya meninggalkan PKS hanya gara-gara partai dakwah ini melakukan sebuah “kesalahan” dan membuat saya kecewa? Jawaban saya: TIDAK.
Namun demikian, saya juga tak lupa berdoa, agar di masa depan, PKS tetap menjadi partai yang saya banggakan, yang selalu membuat keputusan yang membela kepentingan rakyat. Saya berdoa agar di masa depan, PKS tidak pernah lagi membuat keputusan yang membuat saya kecewa.

Terima kasih, salam sukses selalu!

NB: Ingin menerbitkan buku, bebas penolakan naskah? Klik saja www.dapurbuku.com 🙂

Jonru
Mendukung Gerakan “1 Juta Kader PKS Menulis”